Back to All Posts
PELIKAN X LUBANG BUAYA : Global Mining Engineers: Present & Future Demand

PELIKAN X LUBANG BUAYA : Global Mining Engineers: Present & Future Demand


 



Telah dilaksanakan PELIKAN X LUBANG BUAYA melalui daring menggunakan Zoom Meeting pada tanggal 21 Februari 2026. Seminar bertajuk Global Mining Engineers: Present & Future Demand ini berhasil menghadirkan dua alumni HMT-ITB yang telah malang melintang di dunia pertambangan, yaitu Bang Ridwan Auladi, S.T., MBA dan Pak Adi Risfandi, S.T., M.M. Acara yang dihadiri oleh 251 massa HMT-ITB ini berlangsung lancar, mulai dari sesi pematerian yang inspiratif, tanya jawab interaktif, hingga dokumentasi bersama. Para peserta tidak hanya diajak memahami dinamika karier di luar negeri, tetapi juga mendapatkan gambaran nyata tentang bagaimana insinyur tambang bisa bersaing di panggung global, ditengah fluktuasi pasokan dan permintaan mineral dunia.

 

Bang Ridwan Auladi, yang merupakan alumni HMT angkatan 2000, adalah contoh nyata bagaimana seorang insinyur tambang dari Bandung mampu menapaki karier internasional hingga ke Australia. Setelah meraih gelar Sarjana Teknik Pertambangan dari ITB, beliau melanjutkan studi ke University of New South Wales Business School dan meraih gelar MBA. Pengalaman profesionalnya luar biasa luas: mulai dari posisi Mid Term Planning Superintendent di Vale (2005-2010), Technical Services Superintendent di Anglo American (2010-2015), hingga berbagai posisi strategis di BHP sejak 2015 seperti Operations Planning SuperintendentMine Scheduling Superintendent, hingga kini menjabat sebagai Principal Integrated Planning (2020-sekarang). Tak hanya itu, Bang Ridwan juga menjadi Advisory Board Member program studi Teknik Pertambangan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Dengan lisensi bergengsi seperti Site Senior Executive dari Pemerintah Queensland, Chartered Professional (Min) dari AusIMM, dan RPEQ, beliau membuktikan bahwa insinyur Indonesia bisa berdiri sejajar dengan para profesional dunia.

Sementara itu, Pak Adi Risfandi, S.T., M.M., yang merupakan alumni HMT angkatan 1995, memilih jalur karier yang tak kalah gemilang namun lebih berfokus pada kepemimpinan operasional di dalam negeri. Lulusan Teknik Pertambangan ITB ini juga menyelesaikan Magister Manajemen di Universitas Mulawarman. Perjalanan kariernya dimulai dari PT Dyno Nobel (2000-2004), PT Kaltim Prima Coal (2004-2013), hingga berbagai posisi di PT Mifa Bersaudara (2014-2021), PT Cipta Kridatama (2021-2023), dan PT Media Djaya Bersama sebagai Director Operational (2023-2024). Kini, Pak Adi dipercaya menjabat sebagai Direktur di dua perusahaan besar sekaligus: PT Mifa Bersaudara dan PT Bara Energi Lestari (2024-sekarang). Dengan sertifikasi seperti License Holder of Assessor LSP Perhapi BNSP, sertifikasi Mining Economic dari Gillies-Wu Association, serta Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia untuk perencanaan tambang batubara terbuka, beliau adalah bukti bahwa pemimpin tambang Indonesia memiliki kompetensi yang diakui secara nasional dan internasional.

 


Bang Ridwan membuka wawasan peserta tentang panggung global. Dalam paparannya, ia menunjukkan bahwa ketidakseimbangan pasokan dan permintaan mineral global akan terus berlanjut hingga 2040, sementara jumlah mahasiswa teknik pertambangan justru menurun drastis. "Young talent is not joining the mining industry," tegasnya. Peluang besar terbuka bagi insinyur tambang muda, namun ia mengingatkan bahwa karier itu seperti labirin, bukan tangga (career is a maze, not a ladder)—tidak selalu mulus dan naik terus. Ia memperkenalkan konsep The Culture Map dari Erin Meyer yang mencakup 8 dimensi perilaku antarnegara, serta menekankan perlunya keterampilan adaptasi, kesadaran budaya, keberanian keluar dari zona nyaman, dan kemampuan bahasa asing. Proses kerja di luar negeri tidak bisa disiasati: harus sabar, rajin mencari informasi, aktif berjejaring (termasuk melalui HMT), dan yang terpenting, membangun pengalaman kerja di Indonesia minimal 3–5 tahun terlebih dahulu agar bisa bersaing dengan kandidat dari Chili, India, Afrika Selatan, hingga Australia.



Sementara itu, Pak Adi membawa peserta kembali ke realita industri tambang dalam negeri. Ia memaparkan bahwa meskipun transisi energi menuju Net Zero Emission 2060 terus digaungkan, batubara masih akan menjadi pilihan utama energi Indonesia setidaknya hingga 2035–2037. Fakta di lapangan: kapasitas listrik PLTU batubara mencapai 52 GW, sementara EBT baru 15 GW; produksi listrik batubara menyumbang 68%, EBT hanya 12%. Target 23% EBT pada 2025 pun belum tercapai (baru 14-15%). Ia juga menunjukkan bahwa Indonesia adalah raksasa eksportir batubara dunia dengan perusahaan-perusahaan besar seperti KPC, Adaro, Bayan, hingga grup MIFA-BEL yang masuk 15 besar. Namun, industri tambang global menghadapi tekanan dari berbagai sisi: ekonomi (pendapatan datar, EBITDA turun), transisi energi (mineral kritis naik, batubara sulit pendanaan), regulasi dan komunitas, serta rantai pasok geopolitik. Karena itu, teknologi menjadi keharusan—mulai dari real-time fleet monitoring, satellite tracking, machine learning, hingga autonomous haulage dan EV yang sudah mulai diterapkan di beberapa tambang.

Kunci utama yang ditekankan kedua narasumber adalah passion dan kesiapan. Pak Adi mengutip habit kedua dari 7 Habits of Highly Effective People: "Begin with the end in mind." Tentukan tujuan akhir kariermu sejak dini, lalu lacak jejak para profesional yang sudah mencapai posisi impian. Ia juga mengingatkan bahwa passion adalah modal awal yang tak tergantikan—seorang insinyur tambang bukan hanya menggali mineral, tetapi mengelola bumi secara bijak, meninggalkan jejak hijau, dan membawa manfaat bagi banyak jiwa. Di sisi lain, Bang Ridwan menutup dengan pesan bahwa kesiapan bukan hanya soal teknis, tetapi juga mental: berani menghadapi kegagalan, sabar melalui proses panjang (ia sendiri mengirim 500 lamaran, baru satu yang berhasil), dan terus belajar dari setiap pengalaman.

 Dalam seminar ini, kedua narasumber secara sinergis membahas bagaimana para insinyur tambang dapat mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang penuh tantangan dan peluang. Bang Ridwan menekankan pentingnya membangun pengalaman kerja di Indonesia setidaknya 3–5 tahun sebagai fondasi sebelum melangkah ke kancah global, serta mengasah soft skills seperti adaptasi budaya dan keberanian keluar dari zona nyaman. Sementara Pak Adi mengingatkan bahwa semangat (passion) adalah modal awal yang tak tergantikan, bahwa menjadi insinyur tambang bukan hanya tentang menggali mineral, tetapi juga mengelola bumi secara bijak, meninggalkan jejak hijau, dan membawa manfaat bagi banyak jiwa. PELIKAN X LUBANG BUAYA kali ini benar-benar menjadi ruang bakar semangat bagi generasi muda HMT-ITB dan menjadi pengingat bahwa semua langkah itu bermula dari dari satu tempat, Jl. Ganesha, Bandung.