Telah dilaksanakan program kerja LUBANG BUAYA secara luring pada hari Sabtu, 5 April 2025, bertempat di Pratama Corner, Kampus ITB Ganesha. Kegiatan ini menghadirkan tiga alumni Teknik Pertambangan ITB yang memiliki lintasan karier sangat berbeda, yaitu Bang Aditya Herlambang (NIM 12114098, angkatan 2014), Bang Idham Muhammad Fachri (NIM 12114014, angkatan 2014), dan Kak Marlina Wahyunintan Putri (NIM 12119016, angkatan 2019). Acara yang dikemas dalam diskusi santai ini berlangsung penuh canda dan tawa, tapi juga menyisakan banyak pelajaran berharga bagi massa HMT.
Bang Idham—sapaan akrab Idham
Muhammad Fachri—saat ini berkarier sebagai Senior Analyst di Energy Shift Institute, sebuah thinktank
yang fokus pada transisi energi. Namun, perjalanannya tidaklah lurus. Ia
bercerita bahwa dulu pernah bekerja di salah satu perusahaan tambang batubara
terbesar di Indonesia, tetapi merasa menemukan
interest pada bidang yang lain setelah sering
berdiskusi dengan teman angkatannya. Saat itu ia berpikir bahwa masih
ada kesempatan untuk mencoba hal lainnya. Di masa pandemi Covid, ia memutuskan
keluar dan sempat menganggur selama tujuh bulan. Alih-alih sia-sia, masa jeda
itu justru ia gunakan untuk belajar banyak hal seputar bisnis seperti branding,
marketing, dan finance. Hingga akhirnya menemukan ketertarikan pada
bidang finance dan memutuskan untuk memulai karirnya dari nol lagi
dengan bergabung ke Bank Mandiri melalui jalur Officer Development Program
(ODP). Keputusan tersebut juga didukung oleh perbincangannya dengan salah satu
teman SMAnya yang bekerja di Bank Mandiri dimana temannya itu cukup mengerti
industri pertambangan padahal bukan lulusan Teknik Pertambangan. Ia juga
bercerita ternyata sektor perbankan merupakan supporting sector sehingga
erat kaitannya dengan industri-industri lainnya seperti industri pertambangan.
Bang Idham menegaskan bahwa peluang kerja bagi sarjana teknik pertambangan
cukup terbuka luas, kerap kali sebagai mahasiswa merasa terkurung dengan stigma
bahwa lulusan tambang itu wajib bekerja di tambang.
Senada dengan itu, Bang Adit—sapaan Aditya Herlambang—kini memilih jalur yang berbeda. Ia adalah seorang pebisnis yang mengelola Dirasa Eatery dan Nuesara Coffee & Habitual di Bandung. Menurutnya, fenomena “terkurung” di dunia tambang sangat nyata. Banyak pekerja tambang yang dulunya bermimpi untuk terjun ke dunia bisnis setelah mengumpulkan modal dari bekerja di tambang, tapi sulit keluar dari pekerjaannya tersebut karena khawatir pendapatan tidak stabil, padahal ada keluarga yang harus diberi makan. Sebagai pengusaha, Bang Adit mengaku cara berpikirnya tentang gaji berbeda: gaji bukan lagi untuk diri sendiri, melainkan untuk mengusahakan kesejahteraan para pegawai, menyediakan gaji tepat waktu, memberikan THR, dan seterusnya. Namun demikian, ia tetap mendukung mahasiswa tambang untuk bekerja di tambang. Pesannya tegas: jika memang passion kalian di tambang, kejarlah. Namun, biarpun tidak juga bukan jadi masalah.
Sementara itu, Kak Intan—panggilan
Marlina Wahyunintan Putri—berkarier sebagai Mine Engineer - Strategic
Planning di PT Mineral Alam Abadi. Pengalamannya justru berbeda dari dua
alumni lainnya. Sebagai seorang profesional yang terhitung cukup baru berkarir
di tambang, ia menemukan fakta bahwa persaingan untuk bekerja di perusahaan
tambang semakin ketat seiring dengan supply lulusan tambang yang
jumlahnya terus bertambah, tetapi tidak berbanding lurus dengan pertambahan
peluang kerja.
Meskipun ketiganya menempuh jalan
yang berbeda, Bang Adit memilih kopi, Bang Idham merambah bidang keuangan, dan
Kak Intan tetap setia di tambang, mereka memiliki satu kesamaan: HMT-ITB
telah memberikan fondasi yang kuat bagi kehidupan mereka. Bang Adit menyebutkan
bahwa HMT memberikan framework yang baik dan dapat
diaplikasikan di dunia mana pun. Misalnya, kebiasaan hadir tepat waktu,
presensi, dan kerja sama dalam kepanitiaan mengajarkan bagaimana kita memahami
kondisi rekan kerja. Ia juga menceritakan bahwa dirinya tidak pernah terpikir
untuk masuk tambang sejak SMA, tetapi setelah masuk FTTM dan tertarik pada HMT,
ia tidak pernah menyesal karena angkatannya seru dan solid. Hal serupa
diungkapkan Bang Idham yang bukan memilih jurusan tambang pada pilihan pertama,
tetapi malah menjadi blessing untuknya.
Bang Adit juga
mendorong mahasiswa untuk memperbanyak literasi. Baca apa saja, mulai dari
majalah, tabloid, komik, hingga novel, karena literasi melatih otak untuk
berpikir dan mengembangkan imajinasi. Bang Idham menambahkan pesan sederhana:
cobalah banyak hal untuk menemukan minat dan bakat kita. Terkait kehidupan
berhimpun, Bang Adit mengingatkan bahwa HMT adalah rumah. Ciptakan rasa nyaman
dengan cara menyesuaikan diri masing-masing. Bang Idham pun menekankan
pentingnya regenerasi bagi keberlanjutan HMT, ia juga memahami bahwa
perkembangan zaman menuntut HMT untuk terus beradaptasi, metode boleh berubah
tetapi nilai tetap sama.

Di penghujung
acara, suasana Pratama Corner terasa hangat oleh tawa dan cerita jujur para
alumni. LUBANG BUAYA bukan sekadar diskusi karier, melainkan ruang untuk
merasakan bahwa perjalanan setelah lulus tidak perlu lurus untuk tetap sampai. Dari
kopi, finance, hingga tambang, mereka sama-sama membuktikan bahwa HMT
telah menjadi rumah yang membekali keberanian untuk memilih jalannya
masing-masing. Semoga obrolan sore itu menjadi secercah cahaya kecil bagi massa
HMT: bahwa tidak apa bimbang, tidak masalah jika berubah arah, asalkan tidak
pernah berhenti belajar dan terus berkembang. Karena pada akhirnya, seperti
kata Bang Adit, "HMT tuh rumah", dan rumah akan selalu menerima
pulang, apa pun jalan yang dipilih.
HMT-ITB